Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Gitasav dan "Dosa" Otonomi Perempuan: Mengapa Kita Masih Terobsesi Mengatur Rahim Orang Lain?

Beberapa waktu lalu, jagat maya kita kembali gaduh. Pemicunya? Pilihan hidup seorang Gitasav. Seketika, kolom komentar berubah menjadi ruang pengadilan moral. Ribuan orang yang tidak saling kenal mendadak merasa memiliki hak untuk mendikte bagaimana seorang perempuan seharusnya memperlakukan tubuhnya sendiri. Tapi, benarkah ini cuma soal childfree? Atau sebenarnya ada sesuatu yang lebih sistematis di balik kemarahan kolektif ini? Kalau kita bedah menggunakan kacamata sosiologis, apa yang dialami Gitasav adalah bukti nyata bahwa "The Maternal Wall" (Tembok Keibuan) di Indonesia tidak hanya ada di kantor, tapi merakat kuat di kepala kita semua. Kita dibesarkan dalam narasi bahwa nilai tertinggi seorang perempuan adalah menjadi ibu. Begitu ada perempuan yang vokal berkata "tidak", dia dianggap merusak tatanan, atau dalam istilah psikologi disebut terkena Likeability Penalty—perempuan yang berani dan punya prinsip kuat otomatis dicap "tidak menyenangkan" atau ...